Menyingkap tabir penutup hati

Matahari bertengger dengan perkasanya, panas sinarnya membakar Bumi seakan ingin melebur semua yang ada di Bumi pertiwi, entah kesalahan apa yang kita lakukan sehingga Matahari mengumbar panasnya sedemikian hebat. Situasi yang panas membuat pikiran kita menjadi panas bahkan lebih panas dari sinar Matahari.

Jalanan dipenuhi oleh antrian kendaraan roda dua maupun roda empat yang menunggu giliran untuk lewat, asap kendaraan menyelimuti udara, tanpa kita sadari dengan nikmat kita menghirupnya. Tidak seorangpun yang perduli, karena kita semua sibuk dengan aktifitas mencari sesuatu untuk memenuhi tuntutan hidup. Tuntutan hidup datangnya ibarat mobil yang macet dijalan raya, sehingga tidak heran banyak dari kita yang kehilangan kesabaran karena sang waktu tetap mengejar semakin dekat.

Ketenangan malam hilang karena bisikan-bisikan kebutuhan, tidur semakin tidak nyenyak karena pikiran terus berputar seperti baling-baling pesawat terbang. Bergaul tidak sempat, kebohongan dan penipuan tumbuh subur, sifat egois menjajah sifat sosial, kesombongan menggantikan rendah hati, sifat emosi memimpin rasa bersabar dan pada akhirnya rasa persaudaraanpun semakin punah.

Semua itu menjadi kenyataan dalam kehidupan kita. Ketika membaca Koran di sudut terminal, berbagai peristiwa telah terjadi, pemerkosaan, perampokan, pembunuhan, bentrok antar kelompok, penipuan, narkoba senantiasa menghiasi setiap halaman dan kolomnya. Kalau sudah begini untuk apakah hidup ini ?

Dalam situasi seperti ini saya sangat berkeyakinan masih ada sisa dari kesadaran kita yang belum terjamah oleh kesemuanya itu. Manusia diciptakan Tuhan sebagai mahluk yang sempurna dari yang lainnya karena  memiliki tenaga, berbicara dan pikiran. Marilah kita bersama-sama untuk memupuk dan menyiangi supaya tabir hitam yang menyelimuti hati itu semakin terkuak sehingga kita memiliki pikiran yang jernih.

Kita semua telah memiliki apa yang namanya tuntunan hidup dan ada rambu-rambu yang mengatur didalamnya, kenapa kita harus mencari jalan pintas ? yakinlah kita telah disediakan suatu tempat yang nyaman oleh Beliau, mengapa kita masih ragu untuk melepas selimut kotor  yang penuh noda  dan menggantikannya dengan pakaian yang bersih ? Jangar biarkan kebrutalan terlalu lama membelenggu kehidupan kita karena itu akan menjerumuskan diri kita sendiri.

Iklan

About Pandu

Goresan sebuah pena dalam kanfas kehidupan Lihat semua pos milik Pandu

7 responses to “Menyingkap tabir penutup hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: