Belajar bersabar

Untung tidak bisa dikejar dan sial tidak bisa kita hindari. Anggapan itu kayaknya ada benarnya juga. Ketika mengendarai kendaraan di jalan raya, saya berupaya untuk tetap konsentrasi dengan tujuan untuk menghindari kecelakaan namun apa yang terjadi ?

Siang itu matahari dengan tertawa membakar bumi, aktifitas kerja dan lalu lalang kendaraan di jalan semakin padat, asap mobil mengepul menambah semaraknya suasana kota yang terkesan padat polusi. Bermaksud untuk bertemu seorang rekan untuk kopda makan siang menjadi tragegi bagi saya. Ketika itu kendaraan saya diserempet oleh seorang Ibu paruh baya yang menyalip dari sebelah kiri, hal hasil Ibu itu jatuh, dan kendaraan saya oleng (tapi masih dapat saya imbangi ) karena tidak ngebut.

Ketika saya berhenti dan hendak membantu, makian dan omelan dengan lantang keluar dari bibirnya yang tipis, Wah saya kaget luar biasa, kenapa dia marah banget padahal dia yang menyalip dari kiri dan menyenggol kendaraan saya. Namun saya tetap membantu memungi barangnya yang berserakan dengan tanpa memperdulikan omelannya. Wargapu ramai datang, si Ibu makin marah kepada saya, saya mau jelaskan tidak diberi kesempatan.

Saya hanya diam dan mendengar omelan si Ibu, dalam hati saya berkata, suatu karunia bertemu dengan orang yang marah, berarti saya masih diberi kesempatan untuk melatih kesabaran.

Setelah puas mengomel kanan kiri mengingat tidak ada cidera yang parah, tanpa diduga si Ibupun berlalu mengendarai motornya meninggalkan saya yang masih ditanya-tanya sama warga. Ah…saya belum sempat untuk menyelesaikan sudah ditinggal, mungkin si Ibu adalah suatu alasan untuk melatih kesabaran saya.

Iklan

About Pandu

Goresan sebuah pena dalam kanfas kehidupan Lihat semua pos milik Pandu

11 responses to “Belajar bersabar

  • Cahya

    Mas Pandu,
    Apa itu tidak egois namanya Mas? Kita bersabar untuk kebaikan kita sendiri, tapi tidak mengajak ibu itu untuk tenang dan merenung akan kejadian barusan. Bukankah marah-marah dan menyalahkan orang lain begitu saja tidak baik? Apa kita bisa membiarkan orang lain melakukan yang baik sementara kita sendiri bersembunyi dalam kebaikan kita?

    Ah…, hanya celotehan dari pikiran saya saja…

    • Pandu

      @cahya : Pak dr. seperti ulasan saya diatas tadi, saya sudah berusaha untuk mengajak si ibu untuk tenang dan membicarakan dengan sebaik mungkin, kalau saya salah saya minta maaf, tapi jangankan untuk menjelaskan, baru mau bilang “gimana”…sudah langsung dipotong, dengan omelan, dan marahan, malah begitu barangnya rapi dan motornya saya bantu berdirikan dia masih marah dan langsung start meninggalkan saya, apa harus saya kerja si Ibu ? tinggallah saya menjelaskan persoalan kepada warga yang datang.Kalau demikian kira-kira menurut pak dr. langkah apa yang saya lakukan ?

  • afi

    sabar ya bli…., biasa ibu2…, mungkin buru2 mau nyiapin makan siang buat suamix…

  • Masdin

    Selama tidak terlalu meragukan saya kira masih dalam batas kewajaran untuk bersabar 😀

    • Pandu

      Yang jadi persoalan kenapa ibu itu begitu marah ? dan belum tentu saya yang salah, tapi bukan masalah benar salah, namun bagaimana kita membicarakan dengan baik ? yach..saya anggap ibu itu suasana hatinya lagi tidak enak saja, kalau saya ikut marah kan tambah runyam lagi 🙂

  • TuSuda

    Biasanya orang yang sabar akan semakin disayang, ya Bli…

  • Makanan Organic

    Sabar ada dimana-mana ada dirumah ,ada dikantor dan juga dijalan , jangan ketingalan ya , sabar adalah kunci kemenangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: