Cerai

Sebuah Perkawinan pasti tidak menginginkan suatu perceraian, karena hal itu tidak akan mendatangkan suatu keuntungan  yang ada hanya suatu kesedihan. Namun ada orang berkata “ untung  saya bercerai dengan dia kalau tidak “.

Kesemuanya itu terjadi dikarenakan  rasa cemburu, egois  saling tipu , saling melempar tanggung jawab , saling menyalahkan, saling mencaci sehingga terjadilah apa yang dinamakan dua hati yang kontra namun bersatu.

Perang mulut maupun perang diam dengan tamparan maupun bantingan barang, mengalir kepada pisah ranjang dan pada akhirnya bercerai dengan alasan sudah tidak terjadi kecocokan.

Setelah beberapa bulan berjalan kemudian sama-sama sadar bahwa janji setia dalam perjalanan persatuan telah melenceng, anak dan harta tercabik – cabik, diri merasa tercampakkan oleh lingkungan dan luka dihati tetap menganga walau telah sembuh namun sulit untuk diobati.

Pada akhirnya mencoba untuk merangkai kembali butiran kalung mutiara yang telah terpisahkan, mengambil setiap butiran yang masih dalam lekatnya debu tipis , meski telah suram namun kilatan indahnya masih tersimpan. Masih lebih baik kalung itu terbentuk walau tidak sempurna daripada hanya tinggal sebuah nama saja.

Iklan

About Pandu

Goresan sebuah pena dalam kanfas kehidupan Lihat semua pos milik Pandu

30 responses to “Cerai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: